Rabi'ah dilahirkan di basrah (Irak) dalam keluarga yang miskin. Ayahnya bernama Ismail. Kononnya keluarga Ismail hidup dengan taqwa dan iman kepada ALLAH, tak henti-hentinya melakukan zikir dan beribadah melaksanakan ajaran-ajaran Islam.
Kelahiran Rabi'ah awalnya tidak di harapkan, karena Ismail dan istrinya mengharapkan anak perempuan. Hingga pada suatu haru Ismail bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Dan dalam mimpinya Rasulullah mengatakan bahwa Rabi'ah akan menjadi seorang wanita yang mulia, sehingga banyak orang yang mengharapkan syafaatnya.
Rabi'ah kecil tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga yang terbiasa dengan kehidupan orang saleh dan zuhud. Setiap hari Rabi'ah kecil selalu memperhatikan bagaimana ayahnya melakukan ibadah kepada ALLAH dengan membaca Al-Qur'an dan berzikir. Dan Rabi'ah kecil pun mengikutinya dan menghafalkan lafal2 do'a yang sering diucapkan oleh ayahnya dan selalu diulang-ulang dalam do'anya.
Hingga suatu hari kedua orang tuanya meninggal dan hanya meninggalkan perahu kecil yang sering di pakai ayahnya mencari nafkah. Rabi'ah melanjutkan pekerjaan ayahnya menyebrangkan orang di sungai Dajlah.
Waktu berlalu, kota Basrah dilanda kekeringan dan kelaparan. Rabi'ah kecil dijadikan budak dan dijual 6 diham oleh orang jahat. Dan Rabi'ah kecil di suruh melakukan pekerjaan berat oleh orang yang membelinya.
Hingga suatu hari ketika ia berjalan-jalan, seseorang yang tak di kenal menghampirinya dan Rabi'ahpun berlari hingga terjatuh dan tangannya tekilir dan Rabi'ah menangis dan Rabi'ahpun pulang ke rumah tuannya dan merawat tangannya hingga sembuh.
Pada suatu malam, Rabi'ah bersujud dan berdo'a. Tanpa sadar Tuannya mendengar do'anya dan hingga Rabi'ahpun di panggil dan di bebaskan serta diizinkan pergi meninggalkan tuannya. Dan Rabiah'pun pergi menembara dan menjadi seorang penyanyi dan pemain suling yang bernuansa zikir kepada ALLAH. Dan hingga suatu ketika Rabi'ah pergi bertapa hingga suatu saat dia berniat pergi Haji.
Setelah menanjak dewasa dalam pertapaan tidak pernah berfikir untuk menikah tapi memilih hidup zuhud, menyendiri, beribadah kepada ALLAH. Perkawinan baginya adalah rintangan. Ia pernah memanjatkan do'a"Ya ALLAH, aku berlindung kepada-Mu dari segala perkara yang menyibukkanku untuk menyembah-Mu. Dan dari segala penghalang yang merenggangkan hubunganku dengan-Mu". Hakikat perkawinan bagi Rabi'ah adalah "Hendaklah engkau seperti sepotong lilin, senantiasa menerangi dunia walaupun dirinya sendiri terbakar. Hendaklah engkau seperti sebuah jarum, senantiasa berbakti walaupun tidak memiliki apa-apa. Apabila kedua hal itu telah engkau lakukan, maka bagimu seribu tahun hanyalah seperti sehelai rambut". Bagi Rabi'ah, tali pernikahan hanya untuk orang yang memiliki keakuan. Keakuan telah sirna, dan hanya ada melalui Dia. Aku adalah milikNya. Aku hidup di bawah naunganNya. Engkau harus langsung melamar diriku kepadaNya bukan kepadaku.
Kelahiran Rabi'ah awalnya tidak di harapkan, karena Ismail dan istrinya mengharapkan anak perempuan. Hingga pada suatu haru Ismail bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Dan dalam mimpinya Rasulullah mengatakan bahwa Rabi'ah akan menjadi seorang wanita yang mulia, sehingga banyak orang yang mengharapkan syafaatnya.
Rabi'ah kecil tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga yang terbiasa dengan kehidupan orang saleh dan zuhud. Setiap hari Rabi'ah kecil selalu memperhatikan bagaimana ayahnya melakukan ibadah kepada ALLAH dengan membaca Al-Qur'an dan berzikir. Dan Rabi'ah kecil pun mengikutinya dan menghafalkan lafal2 do'a yang sering diucapkan oleh ayahnya dan selalu diulang-ulang dalam do'anya.
Hingga suatu hari kedua orang tuanya meninggal dan hanya meninggalkan perahu kecil yang sering di pakai ayahnya mencari nafkah. Rabi'ah melanjutkan pekerjaan ayahnya menyebrangkan orang di sungai Dajlah.
Waktu berlalu, kota Basrah dilanda kekeringan dan kelaparan. Rabi'ah kecil dijadikan budak dan dijual 6 diham oleh orang jahat. Dan Rabi'ah kecil di suruh melakukan pekerjaan berat oleh orang yang membelinya.
Hingga suatu hari ketika ia berjalan-jalan, seseorang yang tak di kenal menghampirinya dan Rabi'ahpun berlari hingga terjatuh dan tangannya tekilir dan Rabi'ah menangis dan Rabi'ahpun pulang ke rumah tuannya dan merawat tangannya hingga sembuh.
Pada suatu malam, Rabi'ah bersujud dan berdo'a. Tanpa sadar Tuannya mendengar do'anya dan hingga Rabi'ahpun di panggil dan di bebaskan serta diizinkan pergi meninggalkan tuannya. Dan Rabiah'pun pergi menembara dan menjadi seorang penyanyi dan pemain suling yang bernuansa zikir kepada ALLAH. Dan hingga suatu ketika Rabi'ah pergi bertapa hingga suatu saat dia berniat pergi Haji.
Setelah menanjak dewasa dalam pertapaan tidak pernah berfikir untuk menikah tapi memilih hidup zuhud, menyendiri, beribadah kepada ALLAH. Perkawinan baginya adalah rintangan. Ia pernah memanjatkan do'a"Ya ALLAH, aku berlindung kepada-Mu dari segala perkara yang menyibukkanku untuk menyembah-Mu. Dan dari segala penghalang yang merenggangkan hubunganku dengan-Mu". Hakikat perkawinan bagi Rabi'ah adalah "Hendaklah engkau seperti sepotong lilin, senantiasa menerangi dunia walaupun dirinya sendiri terbakar. Hendaklah engkau seperti sebuah jarum, senantiasa berbakti walaupun tidak memiliki apa-apa. Apabila kedua hal itu telah engkau lakukan, maka bagimu seribu tahun hanyalah seperti sehelai rambut". Bagi Rabi'ah, tali pernikahan hanya untuk orang yang memiliki keakuan. Keakuan telah sirna, dan hanya ada melalui Dia. Aku adalah milikNya. Aku hidup di bawah naunganNya. Engkau harus langsung melamar diriku kepadaNya bukan kepadaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar